Jumat, 28 Juni 2013

Gunung Munara, The Hidden Beauty

Jumat, 28 Juni 2013 | 20:10 WIB Redaksi: Casper


Pagi itu seperti biasa secangkir kopi menghiasi dunia keseharian kami. Secangkir kopi yang mengawali rangkaian aktivitas pada hari Minggu yang sudah memasuki musim penghujan ini.

Kami akan mengawali perjalanan ke salah satu daerah perbukitan di kawasan Bogor yang konon katanya terdapat telapak kaki Kabayan. Gunung Munara namanya, terletak di daerah Kampung Sawah, Rumpin Jawa Barat, Indonesia.

Gunung Munara tidak seperti gunung-gunung pada umunya. Tingginya tidak mencapai 2000 meter di atas permukaan laut. Namun, hal itu bukan masalah karena bagi kami ketinggian itu nomor 2. Yang utama adalah bagaimana kami bisa mengambil hikmah dan pelajaran dalam setiap pendakian kami.

Jika berkunjung ke sini menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi, tepat di Jalan Parung kita ambil jalur ke kanan melewati Pasar Parung. Kemudian lurus terus hingga menemui pertigaan, di sini kita berbelok ke kanan dan memasuki daerah Rumpin, Bogor. Jalan di daerah ini rusak parah karena setiap hari dilalui truk-truk bermuatan pasir.

Di awal perjalanan menuju Gunung Munara, kita akan disambut oleh jembatan kecil yang menghubungkan ke kebun-kebun milik warga. Jembatan ini sudah menggunakan beton, tapi sisi sudutnya sudah rapuh sehingga rawan roboh.


Selamat Datang di Gunung Munara

Selama pendakian ke pos I kita dimanjakan dengan deretan warung-warung kecil yang menjual makanan milik warga. Tidak komplit tapi cukup, mengingat lokasi adalah hutan dan kawasan kebun yang mungkin milik warga sekitar kawasan.




Pos I 

Perjalanan menuju pos II mata kita akan dimanjakan beberapa gua khas Indonesia yang cukup unik dan menarik, dibalut dengan akar raksasa menjadi bernuasa khas hutan hujan tropis Jawa di bagian barat. Letaknya yang diapit batu batu cadas (batu belah) berskala besar membuat "hawa sejuk". Mata kita akan cepat sekali mengantuk, namun saya sarankan untuk tidak tidur di situ.



Menuju pos III, batu cadas menjulang. Ini menjadi tempat favorit kami karena cocok sekali untuk mengambil gambar, panorama perbukitan dengan latar sawah dan pemukiman pedesaan penduduk. Sangat direkomendasikan untuk para penggila fotografi landscape. Daerah ini juga menjadi lokasi kawan-kawan mahasiswa pencinta alam melakukkan repling.











Perjalanan kami lanjutkan menuju mitos telapak kaki Kabayan, salah satu figur orang Sunda yang sangat kental dengan humor. Entah benar atau tidak, kami mendengar kalo ini adalah benar-benar telapak kaki Kabayan.



Telapak Kaki Kabayan

Hari sudah cukup siang, jadi kami putuskan untuk melanjutkan summit ke puncak Gunung Munara. Sekali lagi dalam perjalanan saya tak henti berucap “subahanallah” takluk melihat batu khas dan pemandangan sepanjang perjalanan di Gunung Munara ini, batu besar cadas dan goa khas Indonesia menemani setiap perjalanan kami.

Subahanallah ini dia puncak Gunung Munara...












Seperti gunung-gunung di Jawa bagian barat lainnya, gunung ini pun menyimpan kisah mistis. Terlebih lagi gunung ini sering didatangi para pemuda pesantren entah itu dari perguruan atau padepokan. Entah apa yang mereka cari. Meski begitu, pemandangannya yang mempesona membuat saya berjanji dalam hati akan mengunjunginya lagi dalam waktu dekat untuk bersilaturahmi kembali.

Total perjalanan dari bawah hingga puncak tidak memakan waktu lama. Alokasi waktu terbanyak ada di setiap shelter karena kita banyak mendokumentasikan. Sebuah dokumen yang tidak akan pernah mati, yaitu foto. Seharusnya, waktu perjalanan normal adalah 2-3 jam naik, juga turun kembali.

Selamat berpetualang, dan selamat menorehkan catatan di Gunung Munara...


Pesan penting Trip Gunung Munara

1. Bawa lotion anti nyamuk, karena nyamuk di sana tidak akan berhenti menghabisi darah kita. Dari bawah hingga puncak banyak sekali nyamuk lapar di sana.

2. Jangan berbuat yang tidak-tidak walau saya menjumpai beberapa pasangan di sana yang saya tidak tahu sedang apa mereka

3. Paling penting IJIN kepada penduduk setempat,jika anda ragu dalam melewati jalur pendakian nanti. Tidak perlu menyewa jasa porter, tapi berpikir jenrnihlah karena gunung bukan untuk tempat main-main. Fatal akibatnya. Jika Anda memutuskan untuk berjalan sendiri, ijinlah kepada warga sekitar. Setidaknya, mereka tau ada rombongan yang berjalan ke sana.

4. Bawa makanan secukupnya saja, karena banyak penjual di sana. Berbagi rezeki insya’allah barokah

5. Jangan remehkan gunung di sana. Meski tidak tinggi, misteri di dalamnya kita tidak akan pernah tahu. Antisipalah Kawan..

6. Dan tetap ingat

Jangan ambil apapun kecuali gambar

Jangan bunuh apapun kecuali waktu dan

Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak

7. Jangan lupa bawa kopi


Sumber: wisata.kompasiana.com
   

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

 
Copyright © 2013. Kitakemana.net - First Blog Portal and Travel News in Indonesia
Website Created by #gembelpacker
Powered by Blogger