Tampilkan postingan dengan label catper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catper. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2013

catper

Trip Genk Ala-Ala at Bromo

sunrise dari view point pananjakan 1
Depok, KitaKemana.net - Januari lalu saya sempat nge trip ke beberapa kota di Indonesia. Dengan 3 personiel awal, Surabaya menjadi meeting point kami bertiga.

Day 1
Tanggal 27 Januari 2013, kami semua tiba di Surabaya. Saya dan teman saya yang perempuan, Lady, tiba di Juanda Airport sekitar pukul 09.00 pagi waktu indonesia bagian Surabaya. Kami beda pesawat, saya naik Air Asia dengan harga tiket Rp 99.000, sementara Lady naik Citilink dengan harga Rp 260.000. Salah satu teman kami yang laki-laki, Fachri, sudah lebih dulu tiba di Surabaya sekitar pukul 03.00 dini hari, karena dia berangkat dengan KA Kertajaya economy class harga Rp 33.500. Sesuai dengan instruksinya, maka saya & Lady pun menuju terminal purabaya atau yang biasa disebut terminal bungurasih dengan damri seharga Rp 15.000/orang.

Sesampainya saya & Lady di terminal bungurasih, kami bertiga pun makan siang di terminal itu. Soto surabaya seharga Rp 7.000/porsi. Saya pikir enak, karena makan soto surabaya tepat di kota Surabaya nya. Tapi ternyata.... Dan terbilang mahal juga saya rasa. Setelah makan soto, kami langsung menuju Probolinggo, karena destinasi berikutnya adalah menuju Bromo. Horeee!!!

Bus akas yang kami naiki dengan ongkos Rp 16.000/orang, membawa kami menuju Probolinggo. Perjalanan selama kurang lebih 2 jam, melewati kota Sidoarjo, untuk pertama kalinya, saya melintasi desa Porong di kota Sidoarjo. Beberapa tahun silam, saya hanya bisa menyaksikan tenggelamnya desa Porong akibat lumpur itu dari TV saja. Seiring dengan berjalannya waktu, desa Porong dijadikan “wisata lumpur lapindo”. Tapi sayang, kami ga bisa berhenti tepat di wisata lumpur tersebut.

Sampai di Probolinggo sekitar pukul 15.00, kami langsung menuju bison (mobil seukuran elf) yang akan membawa kami menuju desa Cemoro Lawang, desa yang tepat berada di kaki gunung Bromo. Ongkos naik bison Rp 30.000/orang. Oiya, sedikit tips, jangan lupa untuk make a deal sama supir bison itu untuk perjalanan kembali dari desa Cemoro Lawang menuju ke terminal Bayu Angga, Probolinggo. Tarif yang biasa ditawarkan kisaran Rp 20.000 s/d Rp 25.000 untuk 1 orang 1 kali jalan. Kami dapat harga lebih mahal karena bison tak kunjung penuh berisi 15 orang sampai sore. Akhirnya kami beserta para penumpang bison lainnya memutuskan untuk lanjut saja walaupun si supir bison menawarkan harga jadi Rp 30.000.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa indah. Makin mendekati gunung, makin bagus pemandangan di kanan kiri kami. Perjalanan yang kami tempuh menuju desa Cemoro Lawang itu 2 jam. Dengan supir bison yang seperti pembalap F1.

Kurang lebih sekitar pukul 18.00 waktu indonesia bagian bromo, kami tiba di desa Cemoro Lawang. Kami menginap di sebuah homestay seharga Rp 150.000/kamar/malam untuk kami bertiga. Tak ada fasilitas apa-apa dalam kamar, hanya ada kasur beserta perlengkapannya. Kamar mandi pun di luar, sharing dengan penghuni homestay lainnya. Namun nyaman nya adalah dalam kamar mandi itu ada hot-cold water nya. Lumayan.

Setelah mandi, kami ngobrol di kamar, makan malam, kemudian make a deal sama supir jeep yang akan membawa kami menuju Bromo dan sekitarnya. Tawaran harga saat itu deal di harga Rp 400.000, itu sampai view point pananjakan 1 dan kawah gunung Bromo.

Day 2
Kami dijemput oleh supir jeep pada pukul 03.00 dini hari waktu indonesia bagian gunung bromo. Tanpa mandi, kami bergegas masuk ke jeep. Syukron duduk di kursi depan, menemani sang supir. Saya, Lady, Fachri, dan Mila di kursi belakang. 1 jeep maksimal isinya 6 orang, 2 di depan, sisanya 4 di kursi belakang.

Menyususri jeep di padang pasir saat hari mulai gelap, itu amazing rasanya. Saya sampai terkagum-kagum ketika kami mulai menaiki view point pananjakan 1. Jalan yang kami lalui tak terlalu lebar, terus berkelok tajam, dan berbatasan dengan tebing, namun sisi lain dari itu semua ada pemandangan luar biasa yang disuguhkan Sang Pencipta pada kami. Seperti negri di atas awan, luar biasa.

Sesampainya di pananjakan, kami ngopi di sebuah warung bernama “Cafe Good Morning”. Berfoto berlima, kemudian menuju view point. Mencari-cari beberapa posisi yang pas untuk berfoto dengan background Gunung Bromo. Sunrise nya keren banget! Foto-foto pun tak terelakan. Dengan bermodal samsung galaxy nya Fachri dan camdig nya Mila, kami berpose dengan bermacam gaya.

atas : saya - fachri. bawah : mila - syukron
ngopi dan makan pisang goreng di cafe Good Morning 
Puas berfoto, kami menuju lautan pasir, dimana pada ujungnya terdapat kawah Gunung Bromo. Untuk mencapai kawah itu, kami harus jalan kaki. Banyak sewaan kuda, harganya bekisar Rp 20.000, tapi saya dan yang lainnya memilih berjalan kaki untuk sampai kawah. Lebih terasa “jalan-jalannya” dari pada menunggang kuda.

Beberapa kali kami beristirahat untuk minum dan mengatur napas. Mila yang memang punya asma, menyerah akhirnya. Dia menyewa kuda sampai pinggir tangga menuju kawah. Menaiki tangga, napas saya sudah setengah-setengah. Tapi Fachri terus menarik tangan saya hingga kami mencapai puncak kawah lebih dulu dibandingkan teman-teman lainnya. Disusul Lady di urutan kedua, kemudian Syukron dan Mila yang sampai terakhir.

Di puncak kawah pun kami makin menggila untuk berpose. Beberapa wisman memandangi kami sambil cekikikan.

fisy eye dari camdig mila

ala kungfu
Puas berfoto ala ala kungfu di puncak kawah, kami kembali turun menuju jeep. Fachri bernego dengan supir jeep untuk juga membawa kami menuju bukit teletubbies dan pasir berbisik. Nego kali ini agak alot dibandingkan semalam. Akhirnya kami setuju di dengan penambahan biaya sebesar Rp 125.000/jeep.

Jalan menuju bukit teletubbies dan pasir berbisik itu menurun dan berkelok. Kali ini saya dan Fachri yang duduk di jok depan. Walaupun jalanan berkelok, namun sang driver tak menurunkan sedikit kecepatan jeep nya. Kami seperti mafia yang mendapat sanderaan dan dikejar-kejar sama polisi. Haha... lebaiy.

Benar-benar seperti bukit di serial anak-anak, teletubbies, luar biasa indah. Kami kembali berfoto-foto, kali ini foto ala levitasi. Syukron yang paling menarik, sarungnya Fachri dipakainya untuk berbagai macam gaya. Justru lebih terlihat seperti akamsi alias anak kampung sini (bahasa Syukron dan Fachri). Haha...

Ketika sedang asyik berfoto-foto, ada seorang crew mendatangi kami. Ternyata itu crew TVRI yang sedang shooting ala jelajah. Kami di shoot untuk episode kala itu.


berlatar belakang bukit teletubbies
Lanjut menuju pasir berbisik, yang juga merupakan tempat shooting film “Pasir Berbisik” yang dibintangi oleh Christine Hakim, Dian Sastrowardoyo, dan Slamet Rahardjo. Saya membuat video dan lagi-lagi kami berfoto.

Di kejauhan, nampak sekawanan motor trail. Imajinasi saya mulai bergentayangan, saya yakin, pasti lebih seru kalau petualangan kita kala itu dengan motor trail, ala ala peperangan di film scorpion king versi modern, bukan pake kuda tapi pake motor trail. Haha, ngaco. Ok skip.


Tiba kembali ke homestay sekitar pukul 10.00 pagi, kami cari sarapan terlebih dahulu. Setelah itu berkemas untuk meninggalkan homestay (sekitar pukul 12.00), karena bison kami sudah menunggu untuk mengantarkan kami kembali ke terminal Bayu Angga, Probolinggo, untuk selanjutnya menuju trip kami berikutnya.

personiel genk ala ala
Jumat, 12 Juli 2013 - Redaksi: Unknown

Sabtu, 06 Juli 2013

catper

Curug Malela, Surga di Pedalaman Bandung


Sekilas mengenai Curug Malela

Curug Malela berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur di barat laut Bandung. GPS menunjukkan posisi koordinat S07*00’38.1″ E107*12’22.0″.Berdasarkan peta topografi, sungai yang jatuh sebagai Curug Malela setinggi lebih kurang 50 m dan lebar mencapai 70 m, adalah Ci Curug. Airnya terjun di atas batu breksi dan konglomerat yang sangat keras, berumur Miosen Atas, kira-kira 10 hingga 5 juta tahun. Kesan yang timbul dari kerasnya batuan dapat dilihat dari morfologi batuannya yang memperlihatkan dinding-dinding tegak yang licin. Begitulah rupanya mengapa Niagara kecil ini dinamakan ‘malela’ yang mengambil dari Bahasa Kawi yang berarti ‘baja’.

source:



Jum’at, 16 April
Waktu belum menunjukkan pukul 3 sore ketika ane n reza sampai dimeeting point kami didepan sup**in*o  Pancoran.  Satu persatu peserta touring mulai berdatangan, namun ketua rombongan masih terhambat macet dijalan. Jadi sekitar jam stgh 5 sore kami memutuskan untuk jalan duluan menuju meeting point 2 didekat mall Metropolitan Bekasi.

Komposisi
1-Biker: Khairun nisa(depok), Boncenger: Fitri(depok) – Vario
2-Biker: Fitra(Ragunan), Boncenger: Hakeem(Ps. Minggu) – Megapro
3-Biker: Rifky(Cengkareng), Boncenger: Windu(Cengkareng) – Beat
4-Biker: Jimmy(Ciledug), Boncenger: Aji(Jakut) – Mio
5-Biker: Ananta(Ps. Minggu), Boncenger: Reni(Depok) – Beat
6-Biker: Opik(Tj Barat), Boncenger: Ara(Jakut) – JupiterZ
7-Biker: Fajar Ade(-), Boncenger: Satriyo(Depok) – supra125
8-Biker: Putra – Tiger

Setelah mengisi bensin dan sholat magrib akhirnya seluruh rombongan kami berkumpul didekat perempatan yang menuju karawang.

9-Biker: Adi(Bekasi), Boncenger: wening(depok)
10-Biker: Cayyo(Bekasi), Boncenger: – (motornya nggak bisa boncengan)
11-Biker: Icen, Boncenger: – (boncengernya batal ikut)
12-Biker: Reza (Tebet), Boncenger: Intan – suprax125
13-Biker: Yangga(Cengkareng), Boncenger: Niesa(Pamulang) – Mio
14-Biker: Hasbi(Cengkareng), Boncenger: Amel(bekasi) – Vixion

19.00 Perjalanan ke Cimahi dimulai. Setelah melalui kemacetan diruas jalan menuju karawang rombongan kami terpisah 2. Kami memutuskan istirahat sejenak di tugu perbatasan Kota Karawang sambil mengontak keberadaan peserta rombongan yang lain.


Sekitar pukul 8.20 malam rombongan kami berkumpul kembali di Pertigaan kosambi menuju Purwakarta. (minus salah satu biker yg sudah terlanjur didepan). Agar rombongan tidak terpisah lagi kamipun mulai mengatur formasi. Menyusuri jalan menuju Purwakarta kami sempat dihadang Razia Polisi. Karena surat2 lengkap akhirnya kami bisa meneruskan perjalanan tanpa masalah.

Di Purwakarta seluruh peserta berkumpul kembali. Setelah mengisi bensin (Rp 10.000) dan sejenak beristirahat sekitar jam 10 malam kami pun melanjutkan perjalanan menuju Cimahi. Kondisi jalan yang naik turun dengan kelokan tajam membuat biker harus selalu berkonsentrasi penuh. Minimnya lampu jalan ditambah lagi udara dingin perbukitan yang mulai menyerang membuat para pengendara harus lebih ekstra hati2.

Akhirnya sekitar jam 1 malam kami sampai di Cimahi. Perut yang belum diisi  dari sorehari membuat kami memutuskan untuk makan nasi goreng dahulu (Rp 8.000).

Nunggu nasgor sambil narsis
Setelah kenyang kamipun menuju tempat peristirahatan kami dirumah salah satu peserta rombongan. Sekitar jam 2 malam hampir seluruh peserta beristirahat untuk persiapan perjalanan esok.

Sabtu,  17 April
05.30 Beberapa peserta mulai bangun. 3 orang menuju stasiun Padalarang untuk menjemput anggota BPC yang menyusul dari yogya. Ane, nanta n icen keluar menghirup udara pagi sambil sarapan bubur kacang hijau /bubur ayam + ngopi. (Rp 7.000)

Rumah Ara
Setelah perut terisi kami kembali ke rumah singgah kami dan mulai beres2 mempersiapkan perjalanan.  Ditemani gorengan+lontong tanpa isi, Spongebob dilayar TV, sulap kartunya om putra,  kami pun bergiliran ngantri untuk kamar mandi.

08.00, Berangkat

Setelah mengisi bensin terlebih dahulu (Rp 15.000). Kami memulai perjalanan melalui Cililin-Sindang Kerta-GunungHalu. Dikarenakan belum ada satupun yang pernah ke Curug Malela maka hampir disetiap percabangan jalan kami berhenti sejenak untuk bertanya.



10.00
Kami beristirahat sejenak di sebuah pencucian motor sambil menunggu beberapa peserta yang tercecer.


view disepanjang perjalanan:




11.00
Sampai di gunung halu


11.15
lewat Perkebunan teh PTPN VIII Kebun Montoya



Akhirnya sekitar jam setengah 12 kami sampai di Desa Cicadas.




Trek offroad dimulai. Kondisi jalan mendaki dgn trek batu kali diselingi tanah lubang berlumpur, dan jurang disebelah kanan. Membuat pengendara harus full konsentrasi. Kadang kondisi jalan yg tidak memungkinkan mengharuskan para boncengers turun sejenak agar motor kuat mendaki.


Dan kondisi jalan yang licin membuat vario biker cewe’ satu-satunya jatuh. Aji yang semula jadi boncenger ane pun menggantikan posisi Nisa.





Beberapa kali bocenger terpaksa turun:




12.30
Akhirnya setelah menempuh jalur offroad tersebut kami sampai di  tujuan. Ditempat ini kami memarkir motor (Rp 2.000) dan makan siang (ayam goreng+tempe Rp 15.000)



13.00
Menuju Curug dgn trek menurun, melewati jalan cor-an batu kali buatan penduduk setempat, pematang sawah, jalan setapak yang licin.




13.30
Akhirnya kemegahan curug malela terpampang didepan mata.



Dan kamipun tak sabar lagi untuk menikmati sejuknya air:



(baju biru berdiri) penduduk lokal yg membantu kita nyebrang2 diarus deras, dan mengingatkan kalau sungai sedang banjir karna semalam turun hujan deras


Setelah puas menikmati air curug dan bernarsis ria kamipun mulai beres2 untuk kembali pulang.

14.30, pulang dengan trek mendaki




Istirahat di bale2, untuk ganti kostum yang basah.


Istirahat lagi di warung sambil makan cemilan.


16.15
Berangkat.  Setelah beristirahat sebentar dan sholat Ashar di Mesjid kamipun melanjutkan perjalanan menuju Gunung Halu.

18.30
Di Gunung Halu kami mengisi bensin eceran (Rp 11.000), dan bertanya2 jalan menuju Cianjur. Ada 2 jalan ke cianjur, kita ambil yg lebih aman melewati Waduk PLTA saguling utk menghindari begal.

19.00
Isi bensin lagi karena tempat mengisi bensin sebelumnya habis sambil memperbaiki lampu motornya adi yang tiba2 mati. Kondisi yang gelap dan alat yang minim membuat proses perbaikan berjalan cukup lama.

19.45
Menuju cianjur via waduk saguling – rajamandala dgn kondisi jalan kecil berlubang disana-sini, turun naik bukit, perkampungan diselingi hutan dikanan kiri.  Usahakan untuk selalu bertanya2 jalan di setiap percabangan.

11.00
Istirahat sejenak di Waduk+PLTA saguling. Semula kami ingin istirahat lebih lama sambil menikmati waduk dimalam hari namun banyaknya walang sangit membuat kami memutuskan untjk melanjutkan perjalanan.

11.20
Istirahat sejenak dipertigaan menuju rajamandala

11.45
Isi bensin (Rp 10.000) di raja mandala, sholat magrib+isya, rebahan sejenak

24.00
Makan Pecel lele di ciranjang, cianjur (Rp 9.000).

01.00
Menuju masjid At Ta’awun puncak

01.30
tambel ban motor nisa dicimacan, rebahan lagi, kedinginan, opik duluan ke ta’awun

02.00
Sampai di at ta’awun, ngopi2

02.40
Menuju Tugu Kujang, Bogor, jiwa pembalap pada kluar smua, nisa+fitri langsung balik

03.30
Tiba di Tugu Kujang, Yangga tinggal dipom bensin, om syu tinggal dibogor, ganti formasi bikers n boncengers untuk menuju rumah masing2.

04.20
konvoi 2 motor (ane+rifky, reza+windu) > ke pancoran, Ada kecelakaan di jalan raya bogor, daerah depok.

05.00
sampai ditebet

06.00
sampe di rumah (ciledug)

Sekian FR dari kami

Sumber: tigatitik
Sabtu, 06 Juli 2013 - Redaksi: Weningratri

Artikel Terbaru

 
Copyright © 2013. Kitakemana.net - First Blog Portal and Travel News in Indonesia
Website Created by #gembelpacker
Powered by Blogger