Depok, KitaKemana.net - Curug
Cibereum terdiri dari air terjun utama Curug
Cibeureum, dan dua air terjun lain yang lebih kecil, Curug Cidendeng dan Curug
Cikundul. Curug Cibeureum adalah air terjun terbesar dan paling pendek di
kawasan ini, letaknya yang lebih terbuka dan dekat shelter sehingga lebih
banyak dikerumuni. Nama Cibeureum berasal dari bahasa sunda yang berarti sungai
merah, nama ini diambil dari nuansa merah dinding tebing yang terbentuk dari
lumut merah yang tumbuh secara endemik di sana.
Di
sebelah kanan Curug Cibeureum adalah Curug Cidendeng, ukurannya lebih tinggi
dan langsing. Airnya melintasi tebing batu-batu trap dan jatuh menimpa lereng
tebing yang berlumut. Sedangkan yang paling kanan adalah Curug Cikundul,
letaknya yang sangat tinggi dan agak tersembunyi di ceruk dua tebing.
Dinamakan
Cibeureum karena konon dulu air yang dialirkannya berwarna merah. Ci (Sunda,
artinya air) dan beureum (Sunda, artinya merah). Warna merah ini berasal dari
dinding tebing curug ditumbuhi lumut merah (Sphagnum gedeanum). Jika
terkena sinar matahari, warna air pun terlihat berubah menjadi merah.
Selain
mitos berupa air yang berwarna merah tersebut di atas, terdapat juga mitos yang
lain yaitu diyakininya keberadaan seorang pertapa sakti yang sedang melakukan
laku ritual (bertapa). Dikarenakan bertapa sangat lama dan tekun akhirnya
pertama tersebut berubah menjadi batu. Konon batu besar yang berada di
tengah-tengah air terjun Cibeureum ini adalah perwujudan seorang pertapa sakti
tersebut.
Perjalananan
menuju kawasan wisata Cibodas dapat ditempuh dengan mobil dengan kondisi jalan
cukup mulus. Jarak ke kawasan ini sekitar 100 km dari Jakarta (sekitar 3 jam
perjalanan).
Pintu
masuk menuju ke Curug Cibeureum terletak di sebelah utara sekitar 500 m dari
pintu masuk utama Kebun Raya Cibodas. Pintu masuk ini juga merupakan jalan
masuk menuju pendakian ke Gunung Gede-Pangrango.
Sepanjang
perjalanan menuju curug ini akan ditemui beberapa tempat yang menarik, juga
beberapa tempat peristirahatan (pos) yang sengaja dibangun oleh pengelola.
Sekitar 30 menit berjalan dari pintu masuk ditemui pos pertama. Di pos pertama
ini terdapat pusat informasi, tempat istirahat, dan toilet.
![]() |
| beristirahat di bawah pepohonan rindang Taman Raya Cibodas |
Selanjutnya
perjalanan dilanjutkan ke pos kedua yang terletak di dekat Telaga Biru. Telaga
(dengan luas sekitar 0,25 ha) ini mempunyai air yang berwarna biru
kehijau-hijauan karena di dalam telaga ini terdapat ganggang hidup sehingga
membuatnya berwarna biru.
Setelah
berjalan sekitar 2 km, perjalanan akan melewati jembatan yang terbuat dari
susunan potongan kayu yang rapi di atas Rawa Gayonggong. Gayonggong sendiri itu
jenis rumput. Aman untuk dilewati walau ada beberapa kayu yang sudah bolong
karena rapuh. Track jembatan kayu ini lumayan panjang untuk disebut sekadar jembatan,
sampai sedikit berkelok-kelok juga. Di jembatan kayu ini ada tempat istirahat
untuk sekadar melepas lelah atau mengabadikan pemandangan.
Jalur
jembatan kayu kembali berganti dengan track bebatuan, dan tidak lama akan
ditemui pos ketiga yang terletak di sebelah persimpangan (pertigaan) dan
dinamakan Panyancangan Kuda. Ada plang penunjuk arah di sana, dengan arah ke
kiri menuju lokasi air panas, Kandang Badak, dan Puncak Gede, sedangkan arah ke
kanan ke curug Cibeureum dan puncak Pangrango. Dari
persimpangan tersebut ke arah kanan jalan agak menurun sedikit dan datar. Waktu
tempuh menuju curug sekitar seperempat jam lagi dari persimpanan ini.
Biaya tiket
masuk ke Curug Cibeureum ini adalah Rp3500 per orang. Biaya ini adalah untuk
berkunjung ke Curug Cibeureum atau melakukan pendakian. Sebelumnya di pintu
gerbang Kawasan Wisata Kebun Raya Cibodas membayar tiket masuk sebesar Rp2000
per orang dan Rp5000 untuk kendaraan roda empat.
![]() |
| berfoto dengan berlatar Curug Cibeureum |
sumber : id.wikipedia.org
foto : dokumentasi pribadi





0 komentar:
Posting Komentar